puisi-puisi bla untuk hh

11/08/2009 13:49
Blog Entry puisi puisi bla untuk hh Sep 22, '08 1:51 AM
for everyone

Nabi Kata

: buat Hudan Hidayat

Telah kutandangi banyak pengajian. Aku selalu kebagian ujung tikar paling belakang. Mulut-mulut itu maulana-maulana. Entah siapa yang mendengar, siapa yang berkata. Aku jengah, dua puluh tahun kaki ini bersila dan hanya pada satu posisi yoga telinga. Tidak, mereka bukan instruktur-instrutu r surga.

 

Tuan Ismail, sudah seperti Ibrahim yang kelimpahan Taufik kebekuan-Nya ketika Namrud bersekongkol dengan tentara Api. Seakan percintaan telanjang "Tuan dan Nona Kosong" bukanlah lagi butiran cairan anggur yang berdiam di dasar cawan-cawan pembuluh darah adam dan hawa.

 

Aku jengah. Dua puluh enam tahun dada ini hanya menghafalkan alif-ba-ta. Di ruang-ruang dengan delapan sisi dan delapan titik sudut, telah retakkah dinding-dinding kerucut dan bola? Orang-orang yang pandai berhitung, cuma fasih merumuskan pajang kali lebar kali tinggi saja, untuk mengetahui volume makna.

 

Dimensi bertumbuh angka pangkatnya diantara patahan-patahan logika dan sejarah. Sebagai pendeklarasian hamba tuhan, selalu ada ruang lain untuk ranjang peraduan "Tuan dan Nona Kosong" mengerang lebih panjang dan kian panjanglah erangan… Bila mulut-mulut itu masih betah sebagai maulana-maulana, erangan-erangan panjang yang telah mengalir dari mulut "Tuan dan Nona Kosong"mu, dimanakah sulbi dan corong vaginanya, Tuan?

 

Badan gelap ini ingin segera basah, tenggelam di air kolam cahaya. Air yang mengalir dari sela jari nabi itu. "Nabi Tanpa Wahyu". Nabi yang hidup dan mengajarkan kemerdekaan "kata" dalam tubuh-Mu.  

Rawamangun, Rabu pagi, 25062008

 

 

                         

 

Ketelajangan itu Hudan,

Ketelanjangan itu Kleopatra yang tengah mandi, mengguyur seluruh tubuhnya di air mancur, taman jantung Roma. Seraya membiarkan bayi itu bergelantung di puting susu kanannya, pucuk bukit kanannya menghadap Dewa RA.

 

Gaius Julius Caesar telah membeli pengorbanan Mesir yang di susupkannya di dua bola mata patung Kleopatra. Patung yang berdiri dan perutnya membelakangi Ara Maxima. 

 

Orang-orang hululalang saja di jalanan bata yang bertanya pada mereka:

"Perempuan itu siapa? Perempuan itu siapa? Beraninya dia telanjang bulat di jantung Roma, di depan mata Ara Maxima?"

 

Suara-suara beradu dentang loceng di forum. Kertas-kertas berhamburan mencari pintu. Gelap di siang itu, para perempuan kota bersegera menutup jendela kamar suami-suami mereka. Tapi dari Puncak Aventine, siapakah yang sanggup membubarkan gerombolan anjing dan gagak yang berbaris terpana: Ketika jemari Caesar mulai meremas rambutnya, melumat bibirnya. Dalam terik, yang mulai berwujud rintik embun dan bisikan angin Roma

Rawamangun,  Kamis pagi, 26062008

Inspirated by Kredo Seni Hudan di"Nabi tanpa Wahyu"

 

 

 

 

 

Tuhan Pasti Berhenti Bertepuk Tangan, Hudan

Tuhan akan berhenti bertepuk tangan, Hudan. Bila seluruh manusia saling melekatkan tangan dan pipi di awal berkenalan, Tuhan pasti tercengang. Mengapa surga menunjukkan jati dirinya sebelum tikar semesta selesai tergulung dan kembali dihamparkan?

 

Neraka pasti megikat plasenta rahimnya sendiri, Hudan. Sebab butir-butir ovumnya akan kadaluarsa sebelum waktunya, Sebab sperma-sperma lelaki yang terpilih dan dijanjikan, lebih dulu mengebiri saluran zakarnya

 

Seseorang hanya berhayal, Hudan. Berhayal hendak memperoleh keturunan dengan membuang muka dari bayang-bayang ranjang ketelanjangan. Dan kalau teori Evolusi Darwin benar, musnahlah habitat penjual pakaian dikarenakan seleksi alam, alam surga yang kepagian datang, Hudan. Dan terpastikan sudah, tak akan kau dapati lagi, jejak-jejak bocah yang mencari kerang di tepian pantai, atau lengkingan suara-suara girang yang dari karang berloncatan ke permukaan lautan. Bumi ini niscaya segera disuburkan oleh steril kesunyian yang maha-maha panjang.

 

Tuhan pasti berhenti bertepuk tangan, Hudan. Dan Dia akan menangis darah sendirian. Sepasti terselesaikan sudah segenap permainan. Seperti terburai isi-isi usus keganjilan pada satu logika keyakinan, Tuhan pasti berhenti bertepuk tangan.

Rawamangun, ispirated by Essay :"Sastra yang Hedak Menjauh dari Tuhannya" by Hudan Hidayat di buku "Nabi tanpa Wahyu"

 

 

 

 

 

Basmalah yang Terkunyah Graham

: buat Hudan Hidayat dan Fadjroel Rahman

Ke Asia, ke Afrika, ke Amerika, ke Eropa, ke Antartika, kemana kau akan melarikan borok lehermu, Hudan? Bulumu memang putih, semulus salju. Tapi dipenjuru bumi mana, kaum yang tidak meneruskan tradisi penyembelihan anaknya sendiri, seperti yang dipercontohkan Abraham di hadapan berhala?

 

Meski berborok lehermu, dagingmu tetap segar, Hudan, Dan bila kau bisa menghitung, berapalah volume asap Basmalah yang mengepul di udara, ketika pembukaan halaman pertama "Dongeng untuk Poppy", Fadjroel?

 

Tidak Hudan, pisau-pisau yang mengejar-ngejar dan hendak menyembelihmu itupun dua sisinya masih tetap saja tumpul. Dan granit menutup wajah pula dengan sepuluh jarinya, lari terbirit-birit juga ketika bertemu mereka.

 

Dagingmu memang segar, Hudan. Dan aku berani bertaruh, darahmupun melebihi anggur manapun yang pernah singgah di tembolok mereka. Tapi lupakah mereka pelajaran Biologi yang dulu disampaikan seorang guru perempuan dengan rok pendek setengah pahanya?. Bahwa Sapi merumput di padang yang entah berapa ton sudah kotoran satwa lain mengendap di rawa-rawanya. Di kubangan kau dan aku membersihkan badan dan anak keturunan kita.

 

Bukan di hari-hari Adha saja, Hudan, minimal seminggu sekali, layaknya pembesar-pembesar di istana sana, mereka akan singgah di warung-warung nasi padang, " Uda, pakai rendang ya, dan jangan lupa sambal merahnya!" Itulah hidangan malamnya. Basmalah itupun terkunyah di graham-graham mereka, terlumat di usus-ususnya. Kotoran yang sudah lebih dulu bercampur dengan bumbu penyedap masakan. Sedang mereka, setengah jam dulu duduk ngaso, menghabiskan tiga batang rokok di depan meja. Dan benih kotoranmu yang sesungguhnya, mulai bekerja, serentak membiak di seluruh sel-sel tubuh mereka.

 

Tidak Hudan, ke Asia, ke Afrika, ke Eropa, ke Antartika, bukanlah jawaban, meski borok di lehermu, kata mereka, lebih ganas daripada virus anjing gila. Lebih mematikan daripada bisa King Kobra. Kau tak perlu lari kemana-mana. Dan mari kita lanjutkan lagi pesta merumput kita saja. Hingga benar-benar membantal busa daging paha kita. Mari Hudan, kita memamah, sesederhana naluri binatang saja. Kuyakin, Fadjroel, Si Pendongeng untuk Poppy itu juga, sebangsa dengan nenek moyang suku kita. Yang betah di habitat aslinya dan tak akan kemana-mana.

 

Mari Hudan, kita terus meruput saja.

Rawamangun, Sabtu Pagi, 26062008

Inspirateb by Essay "Pintu Sejarah yang Menutup" in "Nabi tanpa Wahyu" by Hudan Hidayat.     

 

 

 

 

 

Nabi Tanpa Wahyu

Masaku hanya 1209600 detik untuk menyampaikan inti dari inti ajaran agama rahasia deretan angka ini kepadamu.

 

"Satu" untuk Dia yang menciptakan aku dan merumuskan deretan angka detik ini untuk kusampaikan kepadamu. "Dua" untuk Adam dan Eva, sebagai tanah binatang permulaanmu. "Nol" untuk bumi sebelum mereka diturunkan dan mencari makan. "Sembilan" untuk zakar sang pejantan. "Enam" untuk vagina sang betina. "Sembilan-Enam" untuk anti klimaks plot drama birahi mereka. "Nol" untuk kenikmatan tertinggi sang pejantan. "Nol" yang terakhir untuk kenikmatan tertinggi si betina. Dan wajib kembali ke "Satu" untuk "Aku", kau yang sekarang hidup di surga-neraka- KU, sebagai alur penyesaian"

 

Kau boleh tak percaya, tapi "AKU-lah nabi itu yang kini sedang berkata". Dan bila kau percaya, aku hanya nabi tanpa wahyu yang kini juga dihadapanmu, sedang berkata.

 

Tentukanlah sendiri olehmu, sebelum benar-benar tandas ke dasar, masa deretan angka, detik-detik pasir aksara itu. Tentukanlah sendiri olehmu.

Rawamangun, Sabtu Siang, 28062008

Judul dipinjam dari judul Essay Hudan Hidayat di buku, Nabi Tanpa Wahyu

 

 

 

 

 

 

 

 

Kunfayakun Hudan

"NOVEL yang besar selalu mengandung tragedy dalam dirinya". Sebagai tuhan yang mencipta inilah falsafah kunfayakunmu, Hudan. Aku bukanlah tuhan novel. Tapi aku juga sudah sedang menjadi tuhan bagi bapa sajak-ku dan keturunannya. Dan kunfayakunku adalah kesunyian yang menggong sangkakala di dada.

 

Memang begitulah kalau sesama tuhan, Hudan. Ternyata ada juga tuhan yang tak becus menciptakan makhluknya sendiri, kemudian mengusik makhluk tuhan-tuhan lain yang sudah suci kodrat-Nya.

 

Tuhan-tuhan itu bergerombol di meja-meja kerja, di symposium-symposium , di forum-forum. Mereka hendak menggugat sendiri kaca mata minus-nya. Aku jadi teringat Tardji di satu kalimat terakhir Essaynya:"Anjing menggonggong tanda tak menggigit".  Lah, sebenarnya mereka tuhan atau anjing yang ngoyo menunjukkan taringnya saja, Hudan?

 

Hahaha, ada baiknya tak usah kau  tanyakan kepada Ketua Klan Situmorang. Berkunfayakun- sajalah Hudan. Seperti Tardji yang ber: Puah!, Pukimak pun jadi Mantra.

Rawamangun, Sabtu Malam, 28062008

 

 

 

 

 

 

Tumbilang

Kau makin nakal saja, Hudan. Di halaman 53, kau buat aku harus membakar batang rokok ke delapan. Sebagai peladang, aku harus masuk ke rimba yang lebih jauh dari perkampungan. Itu butuh pertaruhan, Hudan. Aku tidak boleh lagi menggunakan cangkul, pupuk, bibit dan apa saja, bahkan unsur hara yang sama untuk sekedang menghasilkan seonggok jagung bakar.

 

Tapi aku butuh sesuatu, Hudan. Setidaknya parang dan mantel goni. Kau pernah mendengar gelegar auman harimau Sumatera? Bagi penasbihan Tardji, dia tak akan pernah membaptis seorang penyair yang tak memiliki gaya pengucapannya sendiri.

 

Rawa berlumut dengan kepungan nyamuk dan kalajengking ini memang sudah kubakar, Hudan. Dan kau tahu, aku hendak mencangkulnya dengan barisan gigi seri di mulutku sendiri. Oh ya, beritahu aku, kalau kau satu waktu mendapati peladang yang lebih dulu menggunakan metode ini. Setidaknya, yang terpikirkan olehku, si zakar ini masih bisa menjadi tumbilang rahasia cadanganku nanti Hudan. Pastilah dia tambah tajam oleh asahan kerikil-kerikil alam   

Rawamangun, Minggu dini hari, 29062008

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Pengarang Novel Itu, Berkata:"……"

Begitu sederhana logika kata, akal kalianlah yang merumit-rumitkannya . AKU adalah Seorang pengarang Novel. Novel pertama dan paling mahsyur di dunia. Sehabis pengantar pembuka, di halaman pertama, bab pertama, paragraph pertama, kalimat pertama Novel-Ku, Kutuliskan Alif-Lam-Mim.

 

Karena AKU-lah yang mengarang, AKU bebas  menuliskan kalimat apa saja, termasuk pada kalimat pertama.

 

Kalianlah pembaca. Dan kalian berhak mengartikan tiap kalimat yang telah kutuliskan di dalam Novel-KU, sebagai pembaca.

 

Bisa saja Alif untuk "Eh, itulah anak yang bernama Alif". Atau "Pus..pus…Alif, ke sini sayang, ini ada ikan" atau, "Baju yang kukenakan ini bergambar Alif"

 

Bisa juga Lam untuk "Lama sekali baru datang" atau "Lam, tolong ke sini sebentar bawakan lilin"

 

 Dan Mim boleh saja untuk"Mimi cucu" atau "Mimikmu, aneh gitu" atau "Mim untuk M latin"

 

Tapi kalimat berikutnya, AKU tuliskan:"Novel ini hanya diperuntukkan bagi si pembaca yang percaya".

 

Dan tentang ketelanjangan, di dalam Novel-KU, AKU telah menuliskan pula, "Telanjangilah Ketelanjangan segenap tubuh semesta alur, tokoh, latar, dan apa saja yang telah KU-terakan dan KU-rahasiakan di dalam Novel-KU.  Dan kalian, hanya akan sanggup membaca dengan kemampuan seorang pembaca".

 

Karena AKU-lah Sang Pengarang dan kalian hanya pembaca, begitu sederhana logika kata. Akal kalianlah yang merumit-rumitkannya .

Rawamangun, Rabu dini hari, 02072008.

Inspirated by Essay "Ayat Gelap dan Ayat Terang" in "Nabi Tanpa Wahyu" by Hudan Hidayat

 

 

nb: ini hanyalah secuil apresiasi sallute buat mereka yang berani memasuki malam tubuhnya, dari blalang.

hiks:(

'bla

http://asharjunanda r.wordpress. com




the FINAL THEORY - JURNAL SASTRA TUHAN HUDAN